PERSAHABATAN

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.”  (Umar bin Khattab, Quantum Qalbu, Jilid 2, halaman 17).
.
Akan tetapi, kenyataannya memilih sahabat  tidak semudah membalikan telapak tangan, bahkan ujian dalam mejalin persahabatan yang sedang kita dijalani sering kali membuat silaturahim terputus begitu saja. 
Dalam Al-Qur'an, Surat At-Taubah ayat 119, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” 
Jelas sekali dalam ayat ini, Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman bahwa selain harus bertakwa, mereka juga harus selalu bersama-sama dengan orang yang benar.
 .
Perlu dipahami, bahwa dalam Islam, sesama orang yang beriman (mukmin) itu bersaudara, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an, Surat Al-Hujarat ayat 10, yang artinya: ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara ….” 
Dengan mejalin persahabatan, maka hubungan silaturahim sesama orang mukmin akan terjaga. Oeh karena itu, malaikat pun akan senantiasa menemani, seperti  sabda  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang artinya:“ … sesunggunya aku (malaikat) diutus Allah Ta’ala menemanimu. sebab engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah semata-mata.” (H.R. Muslim:2198).
 
Bukan hanya di dunia, bahkan pada hari kiamat nanti, akan mendapatkan naungan dari Allah Ta’ala. 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya: “Sesunguhnya Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat kelak, 'Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Kunaungi mereka dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.'“ (HR Muslim:2197). 
 
Agar hubungan persahabatan diridhai Allah, tentu saja menjalin hubungannya pun harus karena Allah.sesama mukmin jangan saling membenci, apalagi bermusuhan. Ada beberapa unsur utama yang harus ada dalam hubungan persahabatan :
 
🔸️  Saling mencintai dan menyayangi karena Allah.
Bukan persahabatan namanya, jika tidak ada rasa cinta dan kasih sayang. Kalau satu sama lain sudah saling mencintai dan menyayangi, seumpama salah satunya terluka, maka sahabatnya pun akan ikut merasakan sakitnya. Dari Nu’man bin Basyir RA. Rasulullah Sulullahu Alaihi Wasalam bersabda, yang artinya: ''Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal mencinta, mengasihi dan saling  menyayang bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, tidak dapat tidur dan merasa demam.'' 
(HR Muslim:2216).
 
🔸️ Lapang dada. 
Ada banyak kasus dimana hubungan persahabatan terputus, bahkan berakhir menjadi permusuhan karena berbagai masalah, baik itu karena urusan percintaan atau masalah hutang piutang.   
Ada kisah mengagumkan dari sahabat Rasulullah bernama Salman Al Farisi, seorang mantan budak dari Isfahan Persia yang  sangat tegar, ketika wanita pujaan hatinya justru lebih memilih Abu Darda, sahabatnya. 
Kisah ini terjadi ketika Salman tinggal di Madinah setelah menjadi Muslim dan menjadi salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Suatu sa’at Salman menyukai seorang wanita salihah dari kalangan Anshar, tapi tidak berani melamarnya. Maka ia meminta bantuan Abu Darda, sahabatnya agar menemani dia mengkhitbah wanita impiannya itu.
Singkat cerita Salman ditemani Abu Darda mendatangi rumah wanita shalihah tersebut. Keduanya diterima dengan baik oleh tuan rumah.
“Perkenalkan saya Abu Darda dan ini saudara saya Salman dari Persia. ia telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalnya. Rasulullah pun telah menganggapnya sebagai keluarga. Saya mewakili Salman, bermaksud melamar putri Anda,” katanya kepada Ayah si wanita. 
Ayah wanita tersebut tidak langsung menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya dulu kepada putrinya mengenai lamaran tersebut. Meskipun yang datang adalah sahabat Rasulullah.
Sang ayah kemudian memberikan isyarat kepada istrinya dan putrinya yang berada di balik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya. Mewakili sang putri, ibunya pun menjawab: “Mohon ma'af kami harus berterus terang bahwa putri kami menolak lamaran Salman, namun putri kami akan menjawab iya ,jika abu Darda memiliki keinginan yang sama seperti Salman.
 
Tentu saja Salman kaget. Tapi ia mampu menyikapinya dengan ketegaran yang luar biasa. Dia merelakan wanita pilihannya itu menikah dengan sahabatnya karena menyadari bahwa wanita itu tidak ditakdirkan untuknya. Dan mereka tetap bersahabat seperti biasa. Apakah kita sanggup jika mendapat ujian seperti Salman?
 
🔸️  Itsar (Mendahulukan kepentingan sahabatnya).
Misalnya ada dua orang yang bersahabat sama-sama membutuhkan pekerjaan. Tapi pada sa’at melamar pekerjaan, ternyata sang majikan hanya membutuhkan satu orang saja, maka salah satu diantaranya akan mengalah lebih mendahulukan kepentingan sahabatnya dengan pertimbangan sahabatnya itu lebih membutuhkan pekerjaan tersebut. Bisa dibayangkan jika mereka sampai berebut pekerjaan, maka silaturahim di antara mereka terancam putus. Naudzubillah min dzalik. 
 
🔸️  Saling menghormati satu sama lain.
Ini merupakan hal yang sangat krusial ketika ada perbedaan pendapat. Jika sudah terlanjur terjadi, solusinya adalah meninjau kembali masalah yang diperdebatkan tersebut menurut perpektif Al-Qur’an dan hadist. Bisa juga minta nasehat alim ulama atau orang yang dituakan.

🔸️  Husnudzon dan tidak saling menghakimi.
Masalah seperti ini pun sering terjadi. Ketika ada konflik maka kesalahan ditujukan sahabatnya. Bahkan adakalanya langsung dihakimi begitu saja. Padahan akan lebih baik jika masing-masing pikak sama-sama muhasabah  dan memohon petunjuk pada-Nya.
 
🔸️  Saling menguatkan satu sama lain.
Dari Abu Musa RA, katanya Rasulullah Sulullahu Alaihi Wasalam bersabda : ''Orang mukmin, sesama orang mukmin bagaikan sebuah rumah. Satu sama lain hendaklah saling menguatkan'' (H.R. Muslim: 2215).
 
Intinya, sebelum memutuskan dengan siapa dan bagaimana kita akan membina persahabatan. Sebagai seorang mukmin harus paham terlebih dahulu kaidah–kaidah persahabatan menurut Islam.
Tidak asal bersahabat tentunya, harus karena Allah semata. Jika niatnya sudah Lillahi Ta’ala, Insya Allah persahabatan kita dengan mukmin dari penjuru manapun akan mendapatkan ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan kelak mendapat naungan-Nya pada hari kiamat.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hobby

GUSAR? GUNDAH GULANA?

Motivasi Dari Do'a Harian Ramadhan