Dasar ....
Si Kembar, Kaka-Adek sudah hampir seminggu tidak saling bertegur sapa, setelah berantem hebat gegara rebutan ikan yang memang cuma tinggal sepotong, bekas gigitanku.
.
Jadi, tempo hari Bunda menggoreng seekor ikan. Sayang seribu kali sayang setelah kucoba, "Kok asin banget yah?" Aku pun memelet-meletkan lidah, dilanjut minum segelas besar teh hangat.
.
Kembali ke Adek dan Kaka lagi yah.
Sekarang mereka benar-benar saling menjauh. Misal Si Kaka makan di dalam, maka Ade akan mengalah di luar. Lebih tepatnya Ade takut sama Kaka, tapi tidak berani melawan.
"Ada bagusnya juga mereka tidak kompakan." Ujar Bunda.
"Iya Bun, jadi ngga riweuh."
Yap! Tentu saja situasi seperti ini menjadi keuntungan tersendiri, mereka tidak lagi merecoki Ibu di dapur berbarengan.
Kalau ngerecokinnya satu-satu, kan ngusirnya gampang. Apalagi kalau mereka bawa gebetan segala. Beuh! Bisa rungsing nih Bunda.
.
Tadi malam, akhirnya aku nasehatin mereka. Entahlah mereka paham atau tidak, "Rejeki itu sudah diatur sama Allah, jadi ngga usah rebutan lagi. Pokoknya apapun ngga usah rebutan. Dan yang terpenting, jangan pada ngerecokin Bunda lagi yah, kasihan Bunda."
"Memangnya mereka paham isi ceramah kamu?" Bunda menyangsikan kepiawaianku.
"Pahamlah, Bun."
"Mereka, kan bukan adik-adik kamu."
"Tapi paham deh kayaknya, Bun. Paham, kan?" Aku mengelus-elus kepala Kaka "Kok bau?"
"Ya sudah mandiin, dong." Bunda malah menyuruh aku mandiin mereka, "Duh!"
"Giring aja ke pancuran belakang, mandiinnya jangan disuruh barengan, repot kamu nanti."
"Okay, hayu mandi." Aku memberi isyarat dengan tangan dan menggiring mereka ke area taman belakang rumah.
"Meooow." Loh! Diajak mandi, kok malah pada kabur, sih. Ya sudahlah.
Komentar
Posting Komentar